Headlines News :
Home » » Prof Dr Ahmad Satori, Bersahaja dan Sederhana

Prof Dr Ahmad Satori, Bersahaja dan Sederhana

Written By ikadisubang on 27 Feb 2012 | 2/27/2012

Kalau ada orang yang pernah berdebat dengan kaum liberalis, Prof Dr Ahmad Satori Ismail adalah salah satunya. Malah, ia mengaku sering melakukan itu. Namun, ibarat benteng yang kokoh, Satori tak pernah tergoyahkan. Apa rahasianya?
Rupanya, selain menguasai ilmu-ilmu Islam, pria berusia 54 tahun ini juga sangat ahli dalam bahasa Arab. Gelarnya di Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta adalah guru besar dan doktor bidang bahasa Arab.
Menurut Satori, kaum liberal seringkali “menyerang” lawannya dari sisi bahasa. Mereka kerap menyimpangkan teks-teks al-Qur`an yang menggunakan bahasa Arab.
Pria kelahiran Cirebon, Jawa Barat, ini punya saran bila berhadapan dengan mereka. “Harus ada batasan jelas terhadap makna satu kata,” katanya.
Satori memang kerap berhadapan dengan orang-orang libiral. Tapi, bentuk perlawanannya terhadap kaum ini tak melulu lewat silat lidah. Ia juga memperkuat akidah umat lewat ilmu agama.
Salah satu lembaga yang ia gunakan untuk ini adalah IKADI (Ikatan Dai Indonesia), lembaga yang sekarang ia pimpin. ”IKADI bertujuan, selain meningkatkan pengetahuan agama umat Islam, juga menjadi perekat ormas-ormas Islam,” kata ayah empat anak ini.
Satori tidak cuma aktif di IKADI, ia juga menjadi pembina di berbagai yayasan dan pesantren. Ada banyak lembaga Islam yang ia bina. “Inilah investasi akhirat yang bisa saya lakukan,” katanya.
Pesantren yang dibina Satori itu, antara lain, Pesantren Al-Hasan di Bekasi (Jawa Barat), Pesantren Khusnul Khotimah di Kuningan (Jawa Barat), Pesantren Al-Himmah dan Pesantren Al-Bayyan di Cirebon (Jawa Barat), serta Pesantren Bani Abdillah Al-Khairiyyah di Banten.
Sementara untuk yayasan, Satori ikut membina Yayasan Al-Umm Lii Tahfidzil Qur’an, Pos Keadilan Peduli Umat, dan Bulan Sabit Merah Indonesia.
Bagaimana ia mengatur waktu untuk semuanya itu? Bagaimana pula tanggapannya terhadap pandangan sebagian orang yang menghubungkan IKADI dengan salah satu partai Islam?
Ikuti wawancara wartawan Suara Hidayatullah, Ahmad Damanik dan Syaiful Anshor kepada pria yang juga menjabat Direktur Pascasarjana Universitas Asy-Syafi’iyah, Jakarta, ini.
Sebelum wawancara berlangsung, doktor lulusan Timur Tengah ini menghidangkan sendiri teh hangat yang ia buat dari dispenser yang berada di pojok ruang dosen Fakultas Adab UIN Jakarta.
Bagaimana kabar Ustadz?
Alhamdulillah, baik.
Apa kesibukan Anda saat ini?
Saat ini saya tengah sibuk membangun investasi akhirat lewat dakwah. Itulah aktivitas utama saya. Bukankah tujuan setiap insan adalah dakwah? Maka, semua gerak-geriknya juga harus untuk dakwah.
Selain mengajar, Anda juga membina banyak pesantren dan yayasan. Bagaimana Anda membagi waktu?
Untuk tugas-tugas harian, saya sudah menunjuk wakil di lembaga-lembaga tersebut. Tapi, di waktu-waktu tertentu, saya selalu datang melihat perkembangan mereka secara langsung. Termasuk ikut meng-upgrade cara mengajar mata pelajaran tertentu. Saya juga ikut mengarahkan metode pengajaran, termasuk menyusun kurikulum.
Hal apa saja yang sering Anda sampaikan?
Selain cara mengajar, saya juga mewajibkan orang-orang yang ada di sana, baik murid, guru, maupun pengelolanya, untuk berbahasa Arab. Memang, institusi pesantren yang saya bimbing itu di-setting untuk bisa bahasa Arab.
Mengapa?
Sebab, kebangkitan Islam bakal terwujud kalau umat Islam hafal, mengerti, dan memahami al-Qur`an yang isinya berbahasa Arab.
Ada orang yang paham al-Qur`an, tapi malah memutarbalikkan teks-teks al-Qur`an. Bagaimana menurut Anda?
Fenomena seperti itu sudah ada sejak jaman Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam (SAW). Musuh-musuh Allah Subhanahu wa Ta’ala (SWT) senantiasa berusaha mengganggu pemahaman yang ada dalam al-Qur`an, sesuai kehendak nafsunya. Setelah benteng salibis hancur, mulailah mereka menyerang Islam dengan ghazwul fikr (perang pemikiran).
Mereka menyerang dengan cara tasykik (peragu-raguan), tadhlil (penyesatan) dan tasywih (pensyahwatan) terhadap al-Qur`an.
Orang yang menguasai Bahasa Arab dengan benar, tidak akan bisa diserang dengan cara-cara seperti itu, karena memiliki pemahaman yang kokoh dan benar.
Anda sendiri pernah mengalami hal demikian?
Secara non formal, saya sering bedialog dengan orang-orang liberal. Namun, dengan Ulil Abshar Abdalla (pentolan Jaringan Islam Liberal) baru sekali. Itu kaitanya dengan makna Islam. Tapi, masih dalam batasan-batasan tertentu.
Apa yang Anda diskusikan ketika itu?
Mereka sengaja memutarbalikkan pemahaman terhadap al-Qur`an. Mereka katakan bahwa semua agama sama.
Memang, Nabi Nuh itu Islam, Nabi Yakub juga Islam. Tapi, Islam yang mana? Islam yang kita maksud adalah Islam yang dibawa oleh Rasulullah SAW.
Jadi, jika berdebat dengan mereka, harus disepakati makna yang sebenarnya dari suatu kata. Misalnya, apa makna Islam, al-Qur`an, dan apa pula yang disebut dengan membaca al-Qur`an?
Kesepakaan itu penting. Sebab, mereka selalu membuat sebuah kata menjadi ambigius.
Di mana letak kekeliruaan mereka sesungguhnya?
Mereka ingin membawa kata-kata dalam bahasa Arab kepada kata-kata yang maknanya sesuai dengan kepentingan mereka. Seperti berjilbab, kata mereka, tak wajib. Maka harus disepakati dulu apa yang dimaksud jilbab itu?
Kalau jilbab yang dimaksudkan adalah satu baju hitam yang menjadi tradisi Arab, memang tak wajib. Tapi, kalau jilbab dalam pengertian untuk menutup aurat, itu wajib! Kalau tidak disepakati seperti itu, pembahasannya bisa ngelantur.
Begitu juga dengan istilah surga. Mereka berpendapat surga itu untuk semua umat. Tapi, umat yang mana? Kalau ditanya, apakah Nabi Musa masuk surga? Jawabnya jelas masuk surga. Dia bantah, lho kan agamanya bukan Islam. Ya saat itu adalah Islamnya Nabi Musa, dan pengikutnya yang benar tentu bakal masuk surga. Kalau mereka tidak sesuai dengan Islam saat Nabi Muhammad SAW datang, ya mereka bukan Islam.
Mereka juga memutarbalikkan teks-teks bahasa Arab. Misalnya, makna jihad. Semua aktivitas yang sungguh-sungguh karena Allah SWT, itu bernilai jihad, seperti mengislamkan ekonomi dan mengajarkan ilmu untuk mengenal Allah SWT. Itu semua jihad, asal dilaksanakan dengan sungguh-sungguh.
Tapi, mengangkat senjata membela agama Allah SWT, itu juga jihad. Tidak hanya itu, berkata benar di depan penguasa zalim pun termasuk jihad.
Anda saat ini berada dalam institusi yang sebagian lulusannya memutarbalikkan teks-teks al-Qur’an. Anda setuju?
Setiap memperoleh pekerjaan, kaum Muslim harus memperhatikan tiga hal. Pertama, tanmiatul kafaah (mengembangkan keahlian). Ketika saya bekerja dengan mengajar, otomatis saya meningkatkan keahlian.
Kedua, nasyrul fikrah (menyebarkan pemikiran). Ketiga, kasful ma’isyah (mendapatkan penghasilan). Jika ada tiga hal itu, maka lanjutkan.
Dengan bekerja di sini (di UIN Jakarta), saya bisa menjadi guru besar. Saya juga bisa melakukan nasrul fikrah, misalnya berbicara dengan banyak oragnisasi. Saya juga dapat duit, maka itu kasful ma’isayah.
Tapi, apapun, saya di sini untuk berdakwah. Kalau hanya untuk mencari duit, untuk apa? Karena guru besar, itu berarti dia ada dalam senat, dan itu berarti pula dia bisa ikut menentukan kebijakan.
Apakah berarti orang-orang yang suka memutarbalikkan teks al-Qur`an itu ada di UIN?
Sebenarnya, jumlah orang nyeleneh di UIN sedikit. Namun, media kita suka memberitakan yang jelek-jelak. Akibatnya, jumlah yang sedikit itu kelihatan banyak. Sebaliknya, ada orang saleh jumlahnya seribu, tidak pernah masuk koran.
Memang orang nyeleneh di sana ada, tapi itu terjadi di pascasarjana. Di sana memang tidak ada penjurusan yang tajam. Arah pemikirannya Islam generalis.
Saya juga mengajar di pascasarjana. Tapi, sudah saya sampaikan bahwa nanti kehidupan ini sesuai pasar. Kalau seandainya orang-orang yang kuliah di S2 dan S3 tidak semakin ahli dalam bidangnya, orang akan lari. Kalau ada orang mau mempelajari Hadits, kemudian mereka masuk dan ternyata tidak mendapatkan apapun, maka dia akan lari.
Jadi, semua berpangkal pada pemikiran generalis itu?
Ya, karena memang ada orang-orang yang menghendaki seperti itu, agar kita tidak menjadi ahli. Ilmunya jadi tidak menukik.*** SUARA HIDAYATULLAH, MEI 2009
“IKADI Tak Pernah Beri Instruksi Politis”
Tahun 2003, Ahmad Satori Ismail dan kawan-kawannya mendirikan Ikatan Dai Indonesia (IKADI). Namun, cikal bakal lembaga ini sudah ada sejak tahun 1990, saat ia dan beberapa kawan yang belajar di Timur Tengah kembali ke Indonesia.
Pertama kali datang dari Timur Tengah, yang ia lakukan adalah membuat Yayasan al-Haramain. Yayasan yang difitnah Amerika Serikat sebagai perpanjangan tangan teroris di Indonesia ini kemudian mulai mengenalkan konsep sekolah Islam terpadu. Hingga kini, sekolah-sekolah dengan konsep ini terus berkembang dan terkoordinasi dalam Jaringan Sekolah Islam Terpadu (JSIT).
Akibat fitnah sebagai jaringan teroris internasional tadi, pengurus kemudian berfikir untuk mengubah nama Yayasan al-Haramain.
Maka, tercetuslah ide untuk membuat Ikatan Dai Indonesia (IKADI) dengan melibatkan dai-dai dari organisasi massa lainnya.
Satori menegaskan, IKADI itu organisasi massa (ormas) independen. “Lembaga ini didirikan bukan untuk menyaingi ormas lain. IKADI berusaha memasuki daerah yang tidak dimasuki oleh ormas lain,” tandasnya.
Peran apa yang dilakukan IKADI di tengah problematika umat saat ini?
Dakwah sering kali dilakukan dengan serabutan. Tanpa kurikulum. Sehingga materi yang disampaikan hanya itu-itu saja. Itulah yang menyebabkan umat tetap bodoh.
Atas dasar itu, kami mencoba menyusun agenda dakwah di masjid, majelis taklim, dan sekolah.
IKADI mempunyai beberapa bagian. Pertama, pendidikan. Bagian ini bertugas melakukan pembinaan kepada rohis (kerohanian Islam). Kedua, bagian dakwah yang bertugas menyediakan konten web berupa khutbah Jumat dan materi dakwah lainnya.
Ketiga, bagian sertifikasi dai internal. Dai itu nantinya punya grade. Di bagian ini proses pendidikan untuk dai berlangsung. Dengan modul yang ada, dai IKADI akan ada perjenjangan. Ada dai pemula hingga dai utama. Keempat, bagian humas, bertugas menjadi perekat umat.
Seperti apa dai IKADI menempatkan diri dalam perbedaan yang terjadi di tengah umat?
Kita tekankan pada dai-dai IKADI untuk tidak menjadikan perbedaan sebagai bahan perselisihan. Persoalan wudhu membasuh seluruh atau sebagian kepala, silakan saja. Asalkan mempunyai hujjah.
Demikian juga persoalan isbal, karena jika ini terus dipersoalkan bisa-bisa massa NU yang jumlahnya ribuan tidak sah shalatnya dan masuk neraka semuanya gara-gara persoalan isbal.
Bagaimanapun, IKADI harus menjadi perekat umat. Dalam fikih prioritas, persoalan akidah harus lebih diutamakan, sedangkan masalah cabang berikutnya.
Dalam pandangan IKADI, bagaimana meluruskan perbedaan itu agar tidak semakin tajam?
Pengelompokan itu sudah ada sejak dulu. Yang paling efektif untuk mengurai perbedaan agar tidak tajam adalah lewat pendidikan. Kalau yang muda sudah terbina lewat pendidikan, diharapkan bisa lebih toleran dengan perbedaan itu. Kalau yang tua sudah susah.
Apa yang dilakukan IKADI jika terjadi bentrokan akibat perbedaan itu, seperti kasus di NTB?
Para dai IKADI harus bisa bersama pihak yang tidak bertikai untuk menyatukan dua kelompok. Ya, walaupun ada juga pengurus yang masih kurang senstif, maklumlah karena lembaga ini masih tergolong baru.
Tapi, pada kasus musibah seperti di Ciliwung dan Situ Gintung, IKADI bekerja sama dengan lembaga kemanusiaan lainnya untuk memberikan bantuan moril maupun materil.
Ada fenomena umat Islam mencari spiritualitas lain di luar Islam. Apa pendapat Anda?
Di sinilah seharusnya para dai lebih banyak memberi yang terbaik buat mereka. Tak hanya fatwa, mereka (masyarakat) juga butuhdakwah. Ketika kita tidak mampu mendekatkan mereka pada Islam, mereka mencari alternatif. Banyak yang belum tahu hukum Yoga. Itulah akibat ilmu Islam tak dalam.
Apakah itu berarti dakwah tidak sampai kepada mereka?
Setuju saya. Khutbah cuma mengajak persatuan. Hanya ayat itu yang disampikan, sementara bagaimana praktisnya tidak disampaikan. Ini yang ditekankan. Cara menyampaikan.
Lalu, bagaimana agar dakwah bisa sampai sementara aliran sesat terus bermunculan?
Yang lebih efektif lewat pendidikan. Porsi pendidikan agama harus lebih banyak. Aliran sesat akan terus bermunculan di Indonesia jika kita tidak memberikan pengertian yang benar kepada masyarakat.
Mereka bisa tersesat karena pengertian mereka tentang Islam sangat rendah. Orang Islam Indonesia sudah merasa kaffah ketika sudah bisa shalat, puasa, zakat, dan anaknya sekolah di madrasah.
Dakwah itu tidak hanya dibebankan pada ustadz, ulama, atau pimpinan ormas saja. Setiap Muslim harus berdakwah sesuai dengan posisinya. Pemahaman seperti itu juga masih mengalami distorsi seakan kalau seorang insinyur tidak berdakwah.
Padahal, sebagai seorang insinyur, dengan ilmuanya dia bisa membuat produk yang Islami. Itu juga disebut dakwah. Demikian juga seorang ekonom dan perbankan, harusnya punya tanggung jawab untuk berdakwah sesuai kemampuannya. Kita harus ubah paradigma yang keliru ini.
Apa yang dilakukan IKADI sendiri dalam menghadapi persoalan spiritualitas tadi?
Meningkatkan pengetahuan. Mereka harus diberi penjelasan agar mereka tenang. Dakwah harus disampaikan hingga membuat mereka tenang dengan Islam. Jadi, tak perlu lagi mencari spiritualitas lain di luar Islam.
Apakah perlu lembaga-lembaga dakwah ini bersinergi melakukan hal ini?
Ya, saya sangat setuju. Silaturrahim harus dilakukan agar bisa bekerjasama mengusung program-program pembinaan kepada umat. Tapi, kita yang kecil ini kadang susah untuk mengajak yang besar.
Apakah upaya mengajak itu sudah dilakukan?
Belum seluruhnya. Masalahnya, kami pernah ingin silaturahim ke sebuah ormas Islam, namun mereka tak mau terima kami. Padahal, kami sudah melayangkan surat ke sana. Harusnya kan diterima biar bisa duduk bareng.
Sebagai lembaga terbuka, seperti apa proses seleksi yang dilakukan IKADI?
Ya, karena IKADI lembaga independen, semua boleh masuk. Tapi, di awal harus ada penyamaan pemikiran terhadap manhaj dakwah, layaknya ketika Anda masuk HMI atau PMII. Ketika tahap ini dilewati, Anda baru menjadi anggota IKADI, belum menjadi dai IKADI.
Untuk menjadi dai IKADI, apa syaratnya?
Harus mengikuti taklim-taklim yang diadakan oleh lembaga dan membaca buku-buku yang menjadi referensi dakwah. Ada tingkatannya, ada dai pemula hingga dai utama atau ahli.
Kapan seseorang bisa menggunakan titel sebagai dai IKADI?
Kalau sudah jadi dai pemula, sudah boleh menggunakan titel dai IKADI. Kalau anggota belum boleh. Tapi, bukan berarti dia tidak diperkenankan untuk berdakwah. Kita tidak membatasi.
IKADI sepertinya indentik dengan salah satu partai Islam. Apa benar?
IKADI independen. Tapi, indvidunya tidak dilarang berpartai. Ada yang berpartai, ada pula yang tidak. Mereka kami berikan kebebasan.
Begitupun jika dai IKADI harus memberikan arahan-arahan kepada para politisi, itu hanya secara normatif. Kami tidak pernah memberikan instruksi politis.
Apakah IKADI secara institusi juga melakukan kritik dan evaluasi kepada anggota parlemen yang mengatasnamakan dakwah?
Ya tentu, kami melakukan evaluasi kepada anggota parlemen terutama yang membawa label dakwah. Kami berupaya agar gaya hidup mereka tidak berubah setelah duduk di kursi parlemen.
Di daerah-daerah kami juga melakukan hal itu. Apalagi jika ada partai yang tidak peduli kepada kebijakan-kebijakan yang berhubungan dengan umat. SUARA HIDAYATULLAH, MEI 2009
Tahajjud dan Olah Raga, Resep Sehatnya
Meski berpredikat guru besar bahasa Arab, Ahmad Satori Ismail tetap menggunakan bahasa Indonesia saat berkomunikasi dengan keluarga di rumah. “Anak-anak saya tidak ada yang tertarik mempelajari bahasa Arab. Mereka lebih tertarik dengan ilmu umum,” kata Satori kepada Suara Hidayatullah.
Namun, Satori sangat bersyukur. Walau anak-anaknya tak mahir berbahasa Arab, kelima anaknya menjadi penghapal al-Qur`an. “Kemampuan mereka beragam, ada yang baru hafal 3 juz, ada juga yang sudah 24 juz,” kata Satori yang seluruh anak-anaknya menempuh pendidikan di pesantren ini.
Satori memang mendorong anak-anaknya agar mengenyam pendidikan dasar di pesantren. Paling tidak hingga tingkat SMA.
“Kalau sejak awal pemahaman Islamnya sudah bagus, ketika perguruan tinggi nanti ia sudah bisa mengajarkan Islam kepada yang lain,” harap Satori.
Tapi bukan perkara mudah mendorong anak untuk mau sekolah di pesantren. Hal pertama yang dilakukan Satori kepada anaknya adalah memperkenalkan Pesantren Gontor. Maklum, suami dari Ru’fah Abdullah MM ini juga alumni pesantren yang terletak di Ponorogo, Jawa Timur, itu.
Nanti, jika anak-anaknya tidak betah, Satori akan memberi kebebasan memilih. “Alhamdulillah, mereka memilih pesantren juga,” tandasnya.
Menjaga kesehatan
Sebagai seorang dai, Satori merasa harus mempunyai stamina yang baik. Itulah makanya ia tak lupa menjaga kesehatan. Menurut Zaini Aziz, tetangga Satori, hampir setiap hari lelaki paruh baya itu berolah raga jalan kaki.
“Dulunya, ia suka main badminton. Tapi sekarang sudah jarang. Rutinnya jalan kaki,” terang Zaini yang sehari-hari bekerja di perusahaan media massa Islam ini.
Satori membenarkan hal itu. ”Dai itu harus sehat,” katanya. Setidaknya, setiap hari ia menjadwalkan jalan pagi selama 30 menit. Bahkan, ia menganjurkan dai-dai IKADI melakukan hal serupa sembari rutin check up.
Selain itu, Satori mengaku tak pernah alfa menjalankan terapi air putih. Yang paling ampuh terapi menangis.
“Kalau malam hari sambil tahajjud kita bisa nangis, rasanya plong,” akunya. Karena merasa sehat, setiap pulang kampung bersama keluarga atau mengajar ke Cirebon (Jawa Barat) ia mengendarai sendiri mobil pribadinya.*
Testimoni 1:
Ahmad Kusairi Suhael MA, Ketua I IKADI Bidang Dakwah
“Lapang Dada kalu Dikritik”
Saya mengenal Prof. Ahmad Satori Ismail setelah masuk IKADI tahun 2003. Sejauh pengamatan saya, beliau sosok pemimpin yang layak menjadi panutan.
Selain sangat ramah, beliau juga enak diajak bicara dan lapang dada kalau dikritik. Saat mengambil keputusan, beliau selalu meminta pendapat orang lain meski beliau sendiri mengetahuinya.
Dari segi keilmuan, beliau juga tidak diragukan lagi. Tidak hanya itu, saya sering dimotivasi oleh beliau agar lebih produktif menulis.
Dr. Muhammad Taufiki Ismail MA, dosen UIN Jakarta
“Sering Menghadang Sepilis”
Kemampuan beliau dalam ilmu keislaman dan bahasa Arab sangat mumpuni. Hal itu bisa dilihat dari gelarnya sebagai professor di UIN Jakarta.
Dengan keilmuannya tersebut, beliau sering menghadang pemikiran sepilis (sekulerisme, pluralisme, dan liberalisme), baik di dalam kampus maupun luar kampus.
Di kampus, beliau sering mengisi kajian keislaman mahasiswa. Selain itu, beliau juga menulis buku-buku untuk mengkritisi liberalisme.
Tak hanya di dunia akademis dan dakwah, dalam interaksi sosial dan hubungan keluarga beliau sangat baik. Meski memiliki banyak kesibukan, jika ada waktu libur, beliau selalu membawa keluarganya rekreasi untuk menghilangkan penat. Momen bersama itu beliau jadikan sebagai perekat hubungan keluarga.
Beliau sangat ramah, sopan, dan santun dengan semua orang. Cocok sebagai figur keluarga.
Share this article :

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

Arsip

 
Ikadi Subang : Home | Tentang Kami | Site Map | Kontak | Donasi
Official Site : rumahgozali | Terbit sejak : Januari 2012 | Copyright © 2013. Ikadi SUBANG
Template Design by Creating Website